Nasib Buruh
Bagaikan makan buah simalakama nasib buruh sekarang. Dengan banyak tuntutan yang di ajukan kepada para pengusaha, namun para pengusaha sendiri juga ingin untung gede dengan gaji buruh yang kecil, menurut para buruh. Namun jika di lihat dari keadaan ekonomi sekrang ini memang benar jika buruh harus minta di naikan gajinya. Harga sembako yang kian mahal di tambah biaya lainya yang juga ikut naik. Mulai dari air, listrik dan lain sebaginya. Tak hanya pangan saja yang ikut menambah pengeluaran setiap kepala rumah tangga.
Menuntut kenaikan UMR merupakan hak dari para buruh. Menuntut dengan penghapusan adanya pegawai kontrak juga hak para buruh. Karena mereka takut setelah kontrak itu habis mereka tak dapat bekerja lagi. Dan tentunya mereka harus mencari lagi sebuah pekerjaan. Padahal saat ini mencari pekerjaan tak semudah yang di bayangkan. Harus ada yang membawa ke sebuah perusahaan itu.
Namun di sisi mata para pengusaha, mereka akan berkata ” jika masih ingin bekerja disini dengan segitu ya silakan. Tapi kalau tidak mau ya silakan tinggalkan pekerjaan anda”. Jika mendapat jawaban seperti itu saya buruh juga akan menciut nyalinya. Karena berpikir mencari pekerjaan matlah sulit untuk saat ini. Apalagi yang pilih-pilih pekerjaan. Kemudian untuk perusahaan yang kaliber iternasional, jika biaya tenaga kerja tinggi di suatu negara maka dia akan pindah ke negara lain yang lebih murah tenaga kerjanya. Seperti Kejadian perusahaan SONY yang pindah, di akibatkan oleh tenaga kerja indonesia minta naik gaji.
Adanya kerja kontrak yang harus di salahkan sebenarnya adalah negara. Kenapa ada peraturan seperti itu di biarkan saja. Apakah ini kurang perhatianya pemerintah terhadap tenaga kerja? Di sisi lain pengusaha juga tak mau di bebani oleh biaya uang pesangon yang juga lumayan tinggi. Dengan adanya kerja kontrak maka uang pesangon tak akan ada.
Bagaimana sebaiknya menyikapi keadaan seperti ini?
Comments »
No comments yet.